Jul 04, 2020 - 12:16
pb1
post image

Salah Satu Pengguna QUORA, Mempertanyakan COVID Dianggap Sebagai Politik


Ramai tengah dalam perbincangan kasus COVID. Tak sengaja saya mencoba mampir ke salah satu postingan QUORA dari salah satu pengguna yang mempertanyakan sebagai berikut: Apakah benar jika ada penderita COVID yang meninggal di rumah sakit, maka rumah sakit diuntungkan? Di daerah saya ada isu orang yang meninggal di rumah sakit pasti akan dinyatakan positif, karena rumah sakit akan mendapat uang.

Saya jawab berdasarkan pengalaman sendiri.

  • Mertua sendiri

Sekitar pukul 05.30 wib mertua mendadak pingsan, langsung kami antar ke RS terdekat. Sampai disana saya ditanyain dokter IGD pasien ada demam, sesak napas dan batuk. Saya jawab tidak. Setelah ditangani beberapa saat nyawa mertua tidak dapat diselamatkan.

Setelah menyelesaikan administrasi jenazah kami bawa pulang dengan ambulance dan saya duduk didepan. Ternyata seru juga ni ambulance ngebut banget. Maklum pengalaman pertama. Saya sih mikirnya kenapa harus ngebut toh sudah meninggal.

Setelahnya kami kebumikan seperti biasa.

  • Suami teman.

Ketika masuk IGD mengalami sesak napas dan demam, dua hari di rumah sakit meninggal dunia. Oleh pihak rumah sakit diberlakukan protokol Covid. Pihak keluarga tidak terima sempat terjadi keributan walau akhirnya protokol tetap diberlakukan.

Melihat contoh diatas saya sebagai orang awam berpendapat, jika si pasien dicurigai mengalami Covid lalu meninggal sebelum hasil tes keluar tetap diberlakukan protokol. Hal ini untuk mencegah penularan walaupun nantinya hasilnya negatif. Bukankan lebih baik mencegah daripada mengobati.

Kemudian bermunculan komentar-komentar dari para pengguna QUORA sebagai berikut: