Oct 12, 2015 - 01:27
pb1
post image

Review Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Epos Tentang Kegelisahan, Kesadaran, & Tindakan Di Ufuk Zama


Film berlatar perjuangan nasional kedua dari Garin Nugroho setelah “Soegija” (2012) ini bercerita tentang hidup-juang salah satu tokoh pioneer pergerakan modern Indonesia, Haji Oemar Said Tjokroaminoto (diperankan Reza Rahardian). Kisah dimulai dengan Tjokro kecil yang melihat penderitaan pekerja-pekerja perkebunan kapas yang dianiaya oleh mandor-mandor Belanda. Kegelisahan Tjokro terhadap keadaan juga diperlihatkannya di sekolah, dimana dia berani berdebat dengan guru Belanda totok. Sementara itu narasi-narasi agama Islam yang kuat tentang “hijrah” pada akhirnya berperan membentuk karakter dan kesadaran Tjokro terhadap posisi pribumi terhadap kolonial. Dan ketika beranjak dewasa, Tjokro pun mulai bertindak.

Era dimana Tjokroaminoto tumbuh besar adalah era fajar baru dimana politik etis Kolonial mulai melahirkan elit-elit pribumi yang “tercerahkan”. Tjokro adalah salah satunya. Selain itu, gagasan baru tentang nasionalisme dan pan-islamisme mulai bertumbuh di Hindia. Tjokro yang sedari awal sudah melihat potensi Islam Nusantara sebagai pemersatu lalu “hijrah” ke Surabaya. Di sanalah semua kisah perjuangan bermula. Dari bertemu Haji Samanhudi pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), mengumpulkan pengikut, mengubah “Sarekat Dagang Islam” menjadi “Sarekat Islam (SI)”, mengganti blangkon dengan peci, hingga bersama pengikutnya menentukan arah perjuangan.

Judul “Guru Bangsa” sendiri bisa dijabarkan secara harafiah. Rumah Tjokro bersama istrinya di Gang Paneleh Surabaya seolah menjadi inkubator bagi calon-calon tokoh perjuangan bangsa kedepan. Mulai dari Agus Salim muda, Semaoen, Dharsono, Musso, hingga Kusno (Soekarno) yang masih culun namun antusias. Gagasan-gagasan baru selain pan-islamisme-nya Tjokro juga mulai berbenih. Terinspirasi dari Revolusi Bolshevik Russia, Semaoen dan kawan-kawan mencoba mengubah arah SI menjadi lebih revolusioner dan radikal. Sejarah mencatatnya sebagai “SI Merah” yang berfokus pada perjuangan kelas-kelas pekerja pribumi yang tertindas untuk merebut haknya.

Sumber: https://cinemapoetica.com/tjokroaminoto-ketika-guru-bangsa-menggurui-penonton/
Saya pikir Garin tidak mengharapkan film ini menjadi terlalu detail dan “mirip plek” aslinya, dengan segala intrik-intrik politiknya. Pendekatan Garin bahkan bagi saya sedikit teatrikal (dalam arti positif). Selain lakon-lakon utama, adegan para kawula-jelata dan tokoh-tokoh semi-fiksi juga banyak porsinya. Juga termasuk kehadiran tokoh simbolis seperti Bagong. Adegan-adegan jelata tadi menunjukkan bahwa sejarah bukanlah mirip kaum elit saja. Namun justru rakyat kecil lah yang merasakan langsung arah zaman mulai berubah. Mereka bahkan memandang kehadiran Tjokro dalam sudut pandang mesianik. Bahwa pada akhirnya di zaman mereka ada “Ratu Adil” pribumi asli yang akan membimbing dan merubah tatanan lama. Saat bertemu Tjokro mereka serta merta akan takzim dan mencium. Pada salah satu adegan seorang jelata pembuat kursi (dengan beskap dan dasi ala Barat) secara antusias dan mata berbinar berkata “sama rata-sama rata”.

Sebaliknya, adegan-adegan yang memperlihatkan kelambat-sadaran menanggapi arus zaman juga diperlihatkan, khususnya pada adegan mertua Tjokro sang Bupati Ponorogo (diperankan Sujiwo Tejo). Sosok sang Bupati mewakili gambaran elit priyayi pribumi pada masa itu yang umumnya cari aman karena sudah mendapat previlej jabatan dari pemerintah kolonial. Beberapa peran-peran juga mewakili keterkejutan dan apatisme dari masyarakat kecil menyaksikan dinamika di depan mata mereka. Semua diwakili dengan gumunan dan celotehan yang terasa spontan dan natural. Ada juga sosok Stella (Chelsea Islan) seorang Indo-Londo yang gamang dengan statusnya, apakah londo atau pribumi.

Secara khusus, Garin juga cukup “adil dan moderat” dalam merepresentasikan SI Merah. Mars Internationale, lagu pergerakan Komunisme sedunia, ditampilkan dalam gubahan Indonesia di beberapa adegan. Sisi akting film ini bisa dibilang memuaskan. Reza Rahardian saya yakin dipilih selain karena akting, juga marketing. Namun sisi totalitas aktinglah yang lebih berbicara. Pemeran lain juga sudah pas. Seperti aktor-aktris senior macam Christine Hakim dan Didi Petet yang memerankan tokoh2 minor. Akting seorang Maia Estianti (cicit kandung Tjokroaminoto) juga cukup apik dengan logat suroboyoan dan nyanyian. Bahkan penampilan seorang Chelsea Islan membuktikan bahwa dia bukan sekedar Cinta Laura jilid 2.

Dari sisi teknikal dan artistik, “Guru Bangsa” juga sangat memanjakan mata dan telinga. Penggunaan tone dan kamera serta sinematografinya sangat indah. Dipadu dengan set artistik, kostum, dan, make-up yang detail, kesemuanya cukup berhasil menggambarkan kondisi Jawa awal abad 20. Tidak cukup lewat visual, musik latar juga cukup megah namun wajar. Tapi yang lebih impresif adalah gaya artistik Garin yang menampilkan lagu2 masa itu melalui mimik dan pengadeganan yang indah dan romantik. Gaya yang juga digunakannya dalam “Soegija”.

Kalau ada sedikit kelemahan, itu lebih ke sisi sumberdaya teknis. Saya bayangkan seandainya anggaran film historis macam begini diberi alokasi khusus nan layak pada divisi visual effect, pasti akan ada adegan Kota Surabaya atau Semarang tempo dulu secara lansekap dengan teknik CGI yang mumpuni dan indah. Sepanjang film ini memang sangat minim shot lansekap, kecuali di beberapa adegan seperti di pelabuhan dan kereta api. Dampaknya bagi saya adalah sedikit kelelahan visual karena shot-shot secara zoom in dan interior hampir dilakukan terus menerus. Tapi ini masih saya maklumi karena selain masalah anggaran, Garin juga berhasil menebusnya dengan hal-hal yang dijabarkan pada paragraf sebelum ini.

Akhir kata, kita yang telah merasakan dan “tenggelam” dalam kemerdekaan mungkin agak sulit untuk mengalami pikiran puluhan juta jelata Nusantara yang pada masa itu hanya bisa nrimo pada “takdir” ditindas oleh londo. Fase pikiran mereka mungkin hanya sampai sekedar “gelisah”. Lewat seorang “tercerahkan” seperti Tjokroaminoto-lah segala kegelisahan tadi bisa dimanifestasikan menjadi kesadaran massal akan sebuah “kemerdekaan”. Dan dengan meneladani epos Hijrah Nabi Muhammad, tindakan Tjokro pada akhirnya akan menjadi pemula epos modern sebuah bangsa yang akan “berhijrah”.

Garin Nugroho cukup berhasil menjadikannya sebagai sebuah film yang solid dan ambisius.

Catatan:

1) Walau secara garis besar mengangkat HOS Tjokroaminoto dan Sarekat Islam, film ini memiliki pesan kebangsaan yang universal. Jadi cocok untuk ditonton semua kalangan.

2) Jangan ragu untuk support langsung film ini! Dengan dukungan finansial dari kita (dengan membeli tiket atau DVD original), mungkin saja kedepannya film-film sejenis ini akan bisa diperkuat oleh banyak efek visual.

Bagaimana? apakah kamu menyukai dengan tulisan artikel Burhan Sancaka?
Jika kamu menyukainya, silakan tulis pendapatmu di kolom komentar ya gengs 😊

atau untuk menulis komentar
Sukai Medialova

Apa Reaksimu?

{{ postReactions[reaction] }}
{{ reaction }}
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dan sopan. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.
Silahkan tulis komentar Anda sesuai dengan topik halaman berita ini. Komentar yang berisi SPAM! tidak akan ditampilkan sebelum disetujui oleh team kami. (berkomentarlah dengan baik dan sopan)
Jika Anda merasa bahwa Artikel ini bermanfaat, Anda bisa membagikannya ke teman, sahabat, pacar, keluarga ke Facebook, Twitter, WhatsApp, Pinterest & LinkedIn.
Ini adalah artikel dari komunitas Medialova dan telah disunting sesuai standar penulisan kami. Andapun bisa membuatnya disini.
Penayang artikel dari pengguna Medialova yang diposting di halaman M-story yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Seluruh isi konten adalah sepenuhnya hak milik Medialova, jika mengambil isi konten dari Medialova, harap mencantumkan sumber konten link website Medialova. Seluruh isi konten Medialova, mengandung hak cipta yang diterbitkan oleh para penulis (kontributor) medialova.com.

DISCLAIMER

m e d i a l o va
medialovestory
logo medialova
MODERATOR: Vioza, Agez, Feronica
TEAM EDITOR: Bian, Ayoe, Roys
MediaLova
Rilis 25/07/2020 - v.1.0.8
Iklan
Netflix
Kerjasama

medialova.com[at]gmail.com
Netflix
Author
Burhan Sancaka Penulis Terverifikasi Konten Redaksi Medialova
Burhan Sancaka adalah content writer, editor, dan Memiliki minat besar pada dunia teknologi & sains, social media, dan blogging.
Iklan
Berita
Ahn Hyo Sup dan Park Bo Young beradu akting di Drama Korea Abyss
Ahn Hyo Sup dan Park Bo Young beradu akting di Drama Korea Abyss
Berita
Inilah Fakta Mengejutkan Dari Proses Reshoot Film Justice League
Film Justice League
Berita
Project Power: Joseph Gordon-Levitt Selamat Dari Tembakan Di Kepala Di Klip Terbarunya
Project Power: Joseph Gordon-Levitt Selamat Dari Tembakan Di Kepala Di Klip Terbarunya.
Berita
Netflix akhirnya Merilis Trailer dan Key Art Unsolved Mysteries
Netflix Rrilis Trailer dan Key Art Unsolved Mysteries
atau untuk menulis komentar

ATURAN KOMENTAR

MOHON UNTUK SELALU MENGGUNAKAN ALAMAT EMAIL YANG VALID ( AKTIF ) AGAR KAMI DAPAT MEMBALAS KOMENTAR SOBAT.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dan sopan. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

rb1
rb1
Room

rb2
rb2
Premium

SPONSOR
BERITA ACAK
Chocolate, Drama Korea Terbaru Tentang Cita-cita dan Obsesi
Chocolate, Drama Korea Terbaru Tentang Cita-cita dan Obsesi...
Tips Memilih Shampo untuk Rambut Keriting
Memilih shampo untuk rambut keriting harus dilakukan dengan teliti karena perawa...
Wah! Teaser Justice League Versi Zack Snyder Ungkap Kehadiran Darkseid
Justice League Versi Zack Snyder, Darkseid...
Bintangi "It's Okay to Not Be Okay", Park Gyu Young Mengaku Ingin Lebih Hebat
Aktris Park Gyu Young mengaku dia ingin dikenang menjadi aktris yang cocok mema...
PENULIS
Admin
memiliki 9 artikel
Bian
memiliki 39 artikel
Arum
memiliki 21 artikel
Erwin
memiliki 17 artikel
Zefta
memiliki 16 artikel
Pluto
memiliki 20 artikel
Bangbang
memiliki 12 artikel
Wulan
memiliki 10 artikel
Irta
memiliki 16 artikel
Nadia
memiliki 10 artikel
Kirana
memiliki 6 artikel
Bimo
memiliki 14 artikel
Lutfie
memiliki 13 artikel
Burhan
memiliki 14 artikel
MasGun
memiliki 10 artikel
Fendy
memiliki 20 artikel
Satrio
memiliki 14 artikel
Sukma
memiliki 7 artikel
Sela
memiliki 9 artikel
Medialova
memiliki 13 artikel
Farida
memiliki 13 artikel
MediaNews
memiliki 15 artikel
Annisa
memiliki 9 artikel
Indah
memiliki 12 artikel
Intermezzo
memiliki 11 artikel
AndreSugara
memiliki 3 artikel
Feronica
memiliki 6 artikel
Ayoe
memiliki 6 artikel
Iqbal
memiliki 10 artikel
Malihah
memiliki 5 artikel
Drakor
memiliki 182 artikel
Fuad
memiliki 6 artikel
Alizen
memiliki 22 artikel
Syamsul
memiliki 9 artikel
Fauzi
memiliki 10 artikel
Oman
memiliki 8 artikel
Bayu
memiliki 7 artikel
Fauzan
memiliki 20 artikel
IqbalFauzi
memiliki 18 artikel
Tiara
memiliki 16 artikel
Fitria
memiliki 11 artikel
Staff
memiliki 8 artikel
Gabrielle
memiliki 8 artikel
Roby
memiliki 4 artikel
BeritaPolri
memiliki 9 artikel
Panestika
memiliki 3 artikel
Anggi
memiliki 7 artikel
Maulida
memiliki 121 artikel
Saktiprayoga
memiliki 209 artikel
Janeta
memiliki 8 artikel
Fanisari07
memiliki 32 artikel
Nabila
memiliki 21 artikel
Yudi1998
memiliki 51 artikel
HengkiSEO
memiliki 19 artikel
Destria
memiliki 4 artikel
wi
Widaulfatum
memiliki 3 artikel
Anisaa
memiliki 44 artikel
rb2 rb3