May 15, 2019 - 11:01
pb1
post image

Kenapa Indonesia Tidak Memproduksi Film Bergenre Action?


Pada kesempatan saya kali ini akan sedikit membahas tentang FILM. Jujur aja, variasi genre film di Indonesia masih terbatas di beberapa genre : Drama, Romance, Komedi dan Horor. Jarang banget kita nemuin film bergenre Action, Kriminal atau Detektif dan Science Fiction yang bener-bener murni buatan Indonesia.

Referensi: Berbagai sumber

Ada juga sich, tapi nggak banyak dan biasanya nggak terlalu dikenal. Misalnya aja yang kita kenal adalah The Raid, Headshot, Foxtrot Six (untuk genre action), Marina dan Pembunuh 4 Babak (Untuk genre criminal atau detektif), Rafathar (untuk Science Fiction). Ternyata film tersebut nggak banyak menarik minat para produser untuk memproduksinya kembali. Beberapa faktor utama adalah sebagai berikut :

1. Keuntungan
Referensi: Berbagai sumber

Nggak munafik dan nggak bisa dipungkiri, tujuan utama produser film menginvestasikan uangnya dengan cara memproduksi film adalah mencari keuntungan. Udah pasti produser nggak semata-mata mau menggelontorkan uang tanpa ada sesuatu yang menguntungkan dirinya bukan? Harus ada sesuatu yang kembali sama dirinya dan udah pasti hal tersebut adalah cuan.

Film-film dengan genre tersebut nggak terlalu menarik minat produser film di Indonesia karena biaya produksi yang dikeluarkan untuk film genre tersebut cukup besar, tapi pendapatan dari penjualan tiket tidak terlalu banyak. Sementara kalau budget itu dipake buat film remaja, drama keluarga, romantika, horor, dan komedi itu amat sangat kecil namun kemungkinan bisa meraih jumlah penonton yang lebih banyak.

2. Biaya Produksi Yang Tinggi
Referensi: Berbagai sumber

Ok mari kita hitung-hitungan terlebih dahulu. Kita ambil aja The Raid 2: Berandal yang rilis di tahun 2014 sebagai contohnya. Berdasarkan informasi yang umum kita lihat, biaya film pembuatan film The Raid 2: Berandal sekitar 54 miliar rupiah. Hal tersebut menjadikan sebagai salah satu film Indonesia termahal sampai saat ini. Pada saat tayang di Indonesia, film The Raid 2: Berandal hanya mampu mendatangkan 1.434.272 penonton atau kalau diuangkan dengan rata-rata harga tiket di tahun tersebut adalah Rp.30.000,- rupiah, maka akan dapet sekitar Rp.43.028.160.000,- atau digenapkan 43 miliar rupiah. Tapi tentunya pihak produser nggak nerima sebesar itu, karena angka tersebut adalah angka yang amat sangat kotor. Masih belum dikurangi dengan pajak, jatah untuk pihak bioskop, lalu karena diedarkan worldwide tentu ada potongan buat distributor, dan sebagainya. Untungnya film ini diedarkan di worldwide sehingga ditotal masih ada pendapatan kotor sekitar 27.4 miliar rupiah.

Ok mari kita bandingkan dengan Film Comic 8 yang disutradarai oleh Anggy Umbara. Film ini bergenre komedi dan berhasil mendatangkan 1.624.067 penonton selama pemutarannya di Indonesia. Film Comic 8 ini diproduksi dengan biaya hanya sekitar 8 miliar rupiah, dan kalau harga tiket rata-rata di tahun tersebut adalah Rp.30.000,- maka pendapatan kotor film berada di kisaran angka Rp48.722.010.000 atau 48.7 miliar. Keuntungan kotor yang dihasilkan dari film Comic 8 setelah dikurangi biaya produksi itu sekitar 40.7 miliar rupiah. Jadi bisa terlihat perbedaannya antara genre Action dan Komedi, dimana film The Raid 2: Berandal dengan budget 54 miliar rupiah menghasilkan pendapatan kotor 27.4 miliar rupiah, sementara film Comic 8 hanya mengeluarkan 8 miliar rupiah tapi memberikan keuntungan kotor hingga 40.7 miliar rupiah. Walaupun jumlah tersebut masih kotor, tapi kalau dihitung lebih lanjut, pendapatan bersihnya masih jauh diatas modalnya.

3. Proses Pembuatan Yang Sulit dan Lama
Referensi: Berbagai sumber

Sering ketika menonton film Indonesia kita berpikir "Lah, kalo cuma bikin film kaya gitu aja ane dan tim ane juga bisa". Emang, kalau dianalisa, beban dan tingkat kesulitan pembuatan film genre mainstream di Indonesia hanya perlu bermodalkan akting dan pengolahan emosi aja. Seluruh shooting pun bisa selesai dengan waktu yang nggak lebih dari seminggu. Dan yakin deh, seluruh orang Indonesia yang sudah mempelajari dasar akting, pembuatan film dan modal separuhnya aja, udah bisa melakukannya dengan cepat dan memiliki kualitas yang sama bahkan lebih baik.

Udah jelas pasti beda untuk film dengan genre action, detektif atau science fiction. Apalagi kalau film bergenre nggak mainstream tersebut melibatkan adegan perkelahian, kejar-kejaran mobil dan motor, tabrak-tabrakan, ledakan, tembak-tembakan, tusuk-tusukan, bacok-bacokan, tawuran massal, dan lain sebagainya yang memerlukan adanya koreografi di dalam tiap scene. Jadi harus ada latihan dulu di preproduction yang melibatkan para pemain, stuntman dan pengarah koreografinya, lanjut gladi bersih sebelum mulai take saat production, dan seterusnya.

Belum lagi saat proses produksinya. Shooting yang berpindah-pindah, mobilisasi dan demobilisasi crew serta, proses menunggu pemasangan alat-alat seperti lightning dan dekorasi, penggunaan props yang cenderung nggak reusable dan biasanya hancur-hancuran dan sekali pakai. Misalnya properti tersebut hancur dan take harus diulang, udah pasti persiapannya lagi akan memakan waktu. Terkadang dalam satu scene saja, proses pengambilannya sampai berhari-hari karena sangat rumit dan melibatkan banyak angle gambar.

Ditambah dengan paska produksinya, yang mana sering terdapat keluhan dari para editor yang bebannya ditambah dengan shoot yang kurang sempurna. Dan udah pasti dong penggarapan film yang gak mainstream tersebut menggunakan visual effect atau CGI yang lebih banyak dan rumit dibandingkan film-film mainstream. Akibatnya, film-film ini akan jadi jauh lebih lama. Dan tidak jarang proses paska produksi ini diburu-buru oleh produser untuk kebutuhan kejar tayang sehingga hasilnya terkesan kurang maksimal dan apa adanya.

4. Perlakuan Pasca Distribusi
Referensi: Berbagai sumber

Nggak hanya produser, bukan rahasia lagi kalau pihak bioskop pun melakukan praktik yang sama. "Buat apa beli dan menayangkan film lokal yang paling ga laku-laku amat. Mendingan beli film Hollywood yang jelas-jelas banyak yang nonton, penjualan naik".

Genre-genre yang nggak mainstream pun biasanya juga mendapatkan grade B dalam hasil penilaiannya. Bahkan dianggap hanya layak untuk orang dewasa sehingga terkadang mendapat rating 21+ sehingga membatasi jumlah penonton yang akan menonton film nya.

Film yang nggak mainstream biasanya hanya boleh tayang di jam-jam yang sekiranya gak banyak yang nonton. Misalnya aja jam-jam malam banget, atau siang-siang di jam kerja. Hal ini sering sekali terjadi terutama kalo pas dapet jadwal rilis berbarengan dengan film-film Hollywood. Dan bioskop yang menayangkan pun cuma bioskop-bioskop kecil yang ada di mall-mall sepi.

Walaupun seperti itu, sebenarnya ada cara agar film tersebut bisa tayang di bioskop-bioskop besar dan ramai. Udah pasti jelas hal ini perlu promosi yang besar-besaran dan pastinya ujung-ujungnya duit.

5. Selera Orang Indonesia
Referensi: Berbagai sumber

Yang terakhir udah pasti adalah pasar di Indonesia sudah terbiasa dengan film-film yang ringan dan genre yang dianggap "manusiawi". Bahkan sebagian orang Indonesia pun nggak biasa dan tidak tahan dengan adanya kekerasan, darah, ledakan, pertarungan, mahluk aneh, dunia yang gelap nan sempit, dan sejenisnya. Jadi pas tahu film tersebut dirilis justru semakin nggak ada minat sedikitpun untuk menontonnya. Nggak hanya itu lho, terkadang film romantis hasil konversi novel itu lebih memenuhi asupan gizi para pasangan muda-mudi yang lagi mesra-mesranya. Mayoritas dari mereka akan lebih memilih film romantis atau justru horor untuk berkencan di bioskop. Atau ibu-ibu yang terbiasa menonton sinetron akan lebih memilih drama dibandingkan dengan genre-genre tersebut.

6. Konklusi