Jul 06, 2020 - 10:13
pb1
post image

Dua Sudut Pandang Tentang Pohon Rezeki - Cerpen


Kegundahan mengusik Suman untuk melakukan perjalanan jauh ke padepokan Eyang Sukmo di lereng Gunung Lawu. Seperti sudah mengerti akan kedatangan Suman, senja itu Eyang Sukmo berdiri menanti di pelataran, bersedekap, di bawah pohon nangka yang bergelantungan buah-buahnya, dibiarkan rekah, menebar harum. Tersentak, turun dari mobil, Suman tergopoh-gopoh mendekati Eyang Sukmo, menyalami dan mencium tangannya.

“Kau serupa bulan yang pudar cahayanya,” kata Eyang Sukmo, penuh kasih.

Suman merasa sebagai kanak-kanak salah tingkah, dan tertebak seluruh hasrat yang tersembunyi dalam hati. Ia merasa serupa kijang buruan yang terperangkap dalam jebakan, dan memerlukan pembebasan. Kesunyian padepokan Eyang Sukmo biasanya memberi ruang serupa ladang pembebasan, yang mengembalikan kelincahannya.

“Apa yang kauinginkan? Ingin cari tempat sunyi?” tanya Eyang Sukmo, meledek. “Kau seperti orang-orang kota yang lain, yang mencari kesunyian ketika kalah, dan meninggalkanku ketika menemukan cahaya hati.”

Tak berani menukas, Suman menenangkan diri, menenggelamkan kegetiran hidup masa silamnya. Ada bayang-bayang masa lalu yang gelap, nestapa, yang selalu ingin dihindarinya kini.

Dalam remang senja Suman melacak jajaran pohon palem ekor tupai, yang disebut orang pohon rezeki, dan ia mesti membaca simbol-simbol pepohonan itu. Jajaran pohon palem ekor tupai itu banyak yang patah dahannya. Dalam pandangan Suman, daun-daunnya merangggas, layu, dan mengering. Langkah Suman bimbang mengikuti jalan yang mengarah ke bawah jajaran pohon rezeki. Ia paling sering mendatangi pohon rezeki. Ia menyusuri jalan setapak, di sekitar naungan jajaran pohon itu. Gugup. Ia tak pernah melihat pohon rezeki meranggas. Termangu, ia berhenti di bawah jajaran pohon palem ekor tupai, dan Eyang Sukmo menyusulnya.

“Lihat, ke atas! Amati daun-daun itu, apa yang kausaksikan?” kata Eyang Sukmo. Suman tengadah. Ia tak percaya dengan pandangannya: dalam remang cahaya bulan dilihatnya daun-daun yang mengering. Dahan-dahan pohon palem ekor tupai itu menghitam. Tubuh Suman seperti lumpuh, dan menggugat dalam hati: seperti inikah ujung pencarianku? Pohon-pohon rezeki masih kokoh berjajar di tepi kolam, dengan dedaunan yang ranggas. Apakah ini isyarat bagi habisnya rezekiku? Tetapi tidakkah pekerjaanku sebagai pemborong perumahan masih terus berlangsung? Suman masih dipercaya sebagai pemborong sebuah perumahan di daerah perluasan kota. Dalam sepuluh tahun mendatang, ia merasa masih akan berkelimpahan rezeki. Seandainya ia ingin menikah lagi, tentu masih banyak wanita, bahkan gadis, yang mau mendampinginya.

“Kau terkejut dengan apa yang kaulihat ini?” tanya Eyang Sukmo. “Tidak seperti yang kaubayangkan, pohon rezeki dalam keadaan kering menghitam daun-duannya. Tidak hijau segar sebagaimana biasa.”

“Apa aku akan kembali pada kehidupan yang susah di masa lalu?”

“Hidup tak dapat dikembalikan ke masa silam. Kau memang harus menerima keadaan ini. Mudah-mudahan kau cukup tabah.”

Dulu pertama kali Suman datang ke padepokan Eyang Sukmo pada malam terang bulan, bersama istri, baru menikah sebulan, dengan naik bus dan angkutan desa. Betapa jajaran pohon rezeki itu memberinya harapan dan kegairahan: hijau, tertimpa cahaya bulan. Tenteram duduk berdua di tepi kolam dengan bunga-bunga teratai mengapung di tengahnya, dan di tanggul ditumbuhi bunga-bunga sri rejeki. Istri Suman tak mau beranjak dari bawah jajaran pohon rezeki, meski kabut turun, kian pekat.

Kini, tanpa istri di sisi Suman, mengapa daun-daun pohon rezeki itu tampak ranggas? Hatikukah yang telah ranggas? Atau lantaran aku kehilangan istri? Suman merasa serba salah berada di tepi kolam–yang dalam pandangannya–menyusut airnya, dan bunga teratai mengapung layu.

*** 

Bulan setengah lingkaran, bening, tanpa kabut, tanpa angin, di atas jajaran pohon palem ekor tupai, yang dianggap pohon pembawa berkah. Eyang Sukmo yang menanamnya berjajar di tepi kolam, dengan air tampak surut. Bunga teratai terkulai layu. Di tanggul kolam terlihat terkulai layu bunga-bunga sri rejeki yang biasanya berwarna segar merah jambu, berkilau cahaya bulan permukaannya. Suman beranjak meninggalkan tepi kolam. Ingin ia mendatangi sendang kehidupan. Barangkali di sendang kehidupan ia menemukan pancuran air yang bening berlimpah. Ia sering mendengar kisah para tamu yang membasuh muka dan mengambil air di sendang itu.

Suman meninggalkan pohon rezeki, kolam dengan bungai teratai layu dan bunga-bunga sri rejeki yang meranggas. Ia kembali ke pendapa padepokan Eyang Sukmo. Memasuki kamar. Tidur. Lelap, dalam kemasygulan.

Di pendapa padepokan Gani datang mengetuk pintu, lelaki yang kini tampak menua, dengan rambut dan kumis beruban. Lelaki itu hidup dalam kebersahajaan. Eyang Sukmo memandangi tamunya yang kini tampak menua, dengan kening berkerut. Ia seorang lelaki yang hampir pensiun, dan mencari kebahagiaan dengan menabuh gamelan di pendapa rumahnya. Ia paling senang menghentak kendang setiap kali menabuh gamelan bersama teman-temannya. Kadang ia memahat topeng-topeng yang dikenakan para penari. Topeng-topeng dengan berbagai gurat wajah manusia.

“Saya bawakan topeng pahatan terbaru untuk Eyang,” Gani memberikan sebuah topeng yang baru dipahatnya. Eyang Sukmo menerima topeng itu. Dipasang di dinding pendapa rumahnya. Gani selalu datang ke pedepokan Eyang Sukmo untuk mengantarkan topeng-topeng yang dipahatnya. Dia memandangi perangai Eyang Sukmo ketika menerima topeng itu: apakah takjub, biasa, atau tak berkenan. Bila wajah Eyang Sukmo takjub, mengamat-amati topeng itu lama dengan terpukau, tiba di rumah Gani melanjutkan memahat topeng-topeng serupa.

“Kenapa kau selalu membawakan topeng-topeng pahatanmu?” tanya Eyang Sukmo, seperti menjajaki perasaan Gani.

“Eyang akan memberi petunjuk padaku, mana topeng yang harus kupahat, dan mana topeng-topeng yang mesti kulupakan,” balas Gani. “Lagi pula, saya selalu merasa tenteram setelah menyerahkan topeng itu pada Eyang. Esok pagi saya akan kembali pulang dengan gairah baru.”

Melihat cahaya mata Eyang Sukmo, Gani merasa pasti, lelaki tua itu tak berdusta. Gani ditinggalkan seorang diri, berada di tengah temaram cahaya lampu pendapa. Ia seorang diri, dengan rokok, segelas kopi, dan ubi rebus yang dimakan sesekali. Lelaki yang menua itu melarutkan dirinya dengan kesendirian, kesepian, dan perenungannya. Ia seperti tak memerlukan apa pun, kecuali suasana sepi pendapa. Eyang Sukmo beranjak tidur, Gani masih duduk merokok. Ia seorang pencari keheningan. Ia mencari ketenangan, yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Betapa Gani sangat tenang, dengan sepasang mata yang bening, tanpa pergolakan. Ia berada dalam pendapa yang senyap, sempurna dengan dirinya sendiri.

Menjelang fajar Gani bangkit dari duduk bersila seorang diri. Masih tersisa bungkus rokok di kantongnya. Masih tersisa endapan kopi di gelasnya, yang paling manis dalam cecapan lidahnya. Dia bangkit, pelan-pelan, melintasi pintu pendapa yang semalaman dibiarkan terbentang. Langit merah jambu di puncak Gunung Lawu. Menembus kabut tipis, Gani menuruni jalan setapak menuju kolam: jernih, berlimpah, penuh air menggenang, dengan bunga teratai yang sempurna mekar.

Jajaran pohon palem ekor tupai hijau segar, daun-daunnya berembun, runcing-runcing, dan bunga-bunga sri rejeki merah jambu bermekaran di tepian kolam. Gani berjongkok, membasuh wajahnya dengan air kolam, dingin, meresap sampai ke dada. Ia menemukan kembali kesegaran, bahkan kegembiraan yang kadang lenyap manakala memahat topeng di pendapa rumahnya.

Air kolam itu meresapkan kesejukan sampai ke dada Gani. Ia seperti terbasuh dari debu-debu kota yang menebal di antara pori-pori kulitnya. Sudah waktunya pulang, meninggalkan padepokan Eyang Sukmo. Ia tahu menemukan Eyang Sukmo sepagi ini: di kandang kuda. Eyang Sukmo tengah memberi rumput kuda putih, gagah, dan bersih. Gani menyalami Eyang Sukmo, mencium tangannya, dan lincah sekali berjalan kaki, mencapai mobilnya, yang akan membawanya ke kota di pesisir utara Tanah Jawa, dan kembali pulang ke rumahnya yang senyap. Esok ia akan kembali memahat topeng serupa yang diserahkan Eyang Sukmo, yang menerima topeng itu dengan bahagia.

***

Tak ingin melihat kembali pohon rezeki, Suman merasa gersang hatinya. Ia akan meninggalkan padepokan Eyang Sukmo dengan kegundahan. Eyang Sukmo menepuk-nepuk punggungnya, menggoda dengan ledekan, “Tak ingin lagi melihat pohon rezeki?”

Menggeleng, Suman merasa tak ada gunanya melihat pohon rezeki yang semalam tampak ranggas. Ia memacu mobilnya, menuruni lereng Gunung Lawu, dengan perasaan masygul. Sepanjang jalan, Suman melihat, deretan tanaman gersang, serupa musim kemarau panjang, tanpa turun hujan. Ia merasakan kegersangan sepanjang jalan, dan kehilangan kegairahan pandangan sebagaimana biasa ditemukannya dalam perjalanan ke padepokan Eyang Sukmo. Suman merasa tertipu pandangannya sendiri ketika melihat deretan tanaman layu, serupa menanti datangnya guyuran hujan.

Dalam perjalanan menuruni lereng Gunung Lawu, Suman enggan pulang ke rumah. Ia tak akan menemui istrinya di rumah kayu yang luas, yang ditinggalinya dalam kesunyian. Istrinya sudah meninggal. Memang ada dua anak yang menunggu kepulangannya. Tetapi mereka tak mengisi kegersangan hati setelah istrinya meninggal—tak tergantikan dengan siapa pun. Betapa pun selama ini istrinya terbaring sakit, selalu saja Suman menemukan ketenteraman hati, ketika pulang, dan menemukan ketenangan. Ia masih mengenang semasa hidup susah di masa lalu. Tiap kali ia pulang, mendapati kamar istrinya selalu kosong—seprai yang bersih selalu berganti yang baru, tak seorang pun tidur di atasnya. Ia lebih suka tidur di kursi pendapa, dalam keadaan letih, dan melupakan kehilangan istri. Ia tak pernah menduga bakal menjalani hidup hanya dengan anak-anak dan pembantu di rumah.

***

Mengikuti semua yang diucapkan Eyang Sukmo, Gani terus mengendarai mobilnya. “Jalanilah hidup dengan yang kaumiliki. Kau akan bahagia!” Ia merasakan hangat matahari lereng Gunung Lawu, hijau tetumbuhan, dan kegembiraan para petani penggarap ladang. Tiap kali pulang dari padepokan Eyang Sukmo, ia selalu menemukan gambaran topeng baru yang hendak dipahatnya di rumah. Semalam duduk sendirian di pendapa, dalam diam, dengan segelas kopi dan beberapa bungkus rokok, dia merenungkan kembali gurat pahatan topeng yang baru diserahkan pada Eyang Sukmo dan dipasang di dinding pendapa. Dada yang sesak itu kembali lapang. Ia membasuh muka di kolam bawah jajaran pohon palem ekor tupai, di tanggul bertumbuhan bunga sri rejeki, dan di tengah kolam terapung-apung bunga teratai. Ia mengakui dalam hati, tiap kali gelisah menjelang pernikahan putrinya, Dewi Laksmi, ia memahat topeng-topeng yang seperti dikelupas dari wajahnya: beraneka perangai. Tetapi begitu ia membasuh muka di bawah jajaran pohon palem ekor tupai yang dinamai pohon rezeki, ia tenang: merasa kembali pada diri sendiri, dengan wajahnya yang asli.

Tenteram, Gani mengendarai mobilnya yang membawanya ke kota pesisir utara Tanah Jawa. Sebulan lagi ia akan kembali ke pendapa padepokan Eyang Sukmo, menyerahkan topeng baru dan membasuh wajahnya di kolam dengan bunga teratai, di bawah jajaran pohon rezeki.

Tenang, penuh dengan kepastian, Gani mengendarai mobilnya menuruni lereng Gunung Lawu. Ia belum pernah sekali pun mengajak Dewi Laksmi, anak gadisnya, ke padepokan Eyang Sukmo. Tetapi Dewi Laksmi selalu percaya akan semua yang dikisahkan ayahnya tentang jajaran pohon rezeki, kolam bening dengan bunga-bunga teratai dan bunga-bunga sri rejeki tumbuh di tanggul. Berulang kali peristiwa membasuh muka di kolam selalu menjadi kisah yang ditunggu Dewi Laksmi. Dulu, sebelum datang ke padepokan Eyang Sukmo, Gani dikenal sebagai seorang pemurung, perokok berat, suka memainkan gamelan—tiap kali merasa gelisah. Tetapi begitu mengenal Eyang Sukmo, mengenal pohon rezeki, memandangi bunga-bunga teratai itu, Gani memiliki kegairahan memahat topeng, dan memenuhi dinding pendapa rumahnya dengan topeng-topeng itu. Gani tak lagi gelisah.

Kini Gani mengendarai mobilnya pelan-pelan, dan menikmati pemandangan dari balik jendela kaca. Ia akan mencapai kota kelahirannya, tiba di kota pesisir utara Tanah Jawa, memasuki rumah kayu. Selalu ada hal yang indah: segelas kopi kental yang disuguhkan anak gadisnya, Dewi Laksmi, diseduh dengan tangan gemulai seorang penari. Harum, kental, dan rasa manis dalam gelas besar, terasa pas dalam cecapan lidahnya.

Ia melupakan peristiwa istrinya meninggalkan rumah hanya untuk bisa menikmati hidup bersama Suman.

Cerpen ini diterbitkan oleh: S. Prasetyo Utomo

Bagaimana? apakah kamu menyukai dengan tulisan artikel Fauzi ?
Jika kamu menyukainya, silakan tulis pendapatmu di kolom komentar ya gengs 😊

atau untuk menulis komentar
Sukai Medialova

Apa Reaksimu?

{{ postReactions[reaction] }}
{{ reaction }}
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dan sopan. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.
Silahkan tulis komentar Anda sesuai dengan topik halaman berita ini. Komentar yang berisi SPAM! tidak akan ditampilkan sebelum disetujui oleh team kami. (berkomentarlah dengan baik dan sopan)
Jika Anda merasa bahwa Artikel ini bermanfaat, Anda bisa membagikannya ke teman, sahabat, pacar, keluarga ke Facebook, Twitter, WhatsApp, Pinterest & LinkedIn.
Ini adalah artikel dari komunitas Medialova dan telah disunting sesuai standar penulisan kami. Andapun bisa membuatnya disini.
Penayang artikel dari pengguna Medialova yang diposting di halaman M-story yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Seluruh isi konten adalah sepenuhnya hak milik Medialova, jika mengambil isi konten dari Medialova, harap mencantumkan sumber konten link website Medialova. Seluruh isi konten Medialova, mengandung hak cipta yang diterbitkan oleh para penulis (kontributor) medialova.com.

DISCLAIMER

m e d i a l o va
medialovestory
logo medialova
MODERATOR: Vioza, Agez, Feronica
TEAM EDITOR: Bian, Ayoe, Roys
MediaLova
Rilis 25/07/2020 - v.1.0.8
Iklan
Netflix
Kerjasama

medialova.com[at]gmail.com
Netflix
Author
Fauzi Penulis Terverifikasi Konten Redaksi Medialova
Iklan
Berita
5 Pesan Dari Masa Depan Untuk Para Pemalas
5 pesan menyakitkan dari masa depan untuk para pemalas, pesan yang cukup menyakitkan
Berita
6 Tips Menabung Uang Agar Masa Depan Bisa Terjamin
Dikit-dikit diambil, jadi kapan nabungnya sih :/
Berita
10 Cara Mempercepat Kinerja Android Kalian Yang Lemot
Terkadang suka ribet dengan android yang lemot, tenang berikut adalah cara mempercepat kinerja android dengan mudah, dan mungkin dapat kalian terapkan untuk mempercepat loading android kalian masing-masing
Berita
Sejarah Tentang Kesamaan Antara Bendera Monaco Dan Indonesia
Monako sempat tak mau menerima dan mengakui kemerdekaan Indonesia. Alasannya, bendera dua Indonesia sama persis dengan bendera negeri mereka. Kala itu Monako meminta Indonesia untuk mengubah warna bendera, yang artinya mengubah bendera Indonesia.
atau untuk menulis komentar

ATURAN KOMENTAR

MOHON UNTUK SELALU MENGGUNAKAN ALAMAT EMAIL YANG VALID ( AKTIF ) AGAR KAMI DAPAT MEMBALAS KOMENTAR SOBAT.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dan sopan. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

rb1
rb1
Room

rb2
rb2
Premium

SPONSOR
BERITA ACAK
5 Cara Mengatur Keuangan Agar Survive Seandainya Indonesia Mengalami Resesi
Ini nih yang mesti kamu lakuin untuk survive saat resesi ekonomi...
5 Hal Ini (Yang Bikin Susah) Ngebuat Kamu Sulit Mutusin Doi, Padahal Hubungan Kalian Udah Gak Sehat
5 Hal Ini (Yang Bikin Susah) Ngebuat Kamu Sulit Mutusin Doi, Padahal Hubungan Ka...
9 Tips Hemat Anak Kosan, 1 Juta Cukup Untuk Sebulan
Bagaimana jika sobat memiliki gaji yang pas-pasan? Tentunya harus menerapkan man...
Cara Menghadapi Teman Yang Egois Dan Selalu Menyusahkan
Orang yang egois artinya adalah orang yang memiliki ego yang terlalu kuat. Ego y...
PENULIS
Admin
memiliki 9 artikel
Bian
memiliki 39 artikel
Arum
memiliki 21 artikel
Erwin
memiliki 17 artikel
Zefta
memiliki 16 artikel
Pluto
memiliki 20 artikel
Bangbang
memiliki 12 artikel
Wulan
memiliki 10 artikel
Irta
memiliki 16 artikel
Nadia
memiliki 10 artikel
Kirana
memiliki 6 artikel
Bimo
memiliki 14 artikel
Lutfie
memiliki 13 artikel
Burhan
memiliki 14 artikel
MasGun
memiliki 10 artikel
Fendy
memiliki 20 artikel
Satrio
memiliki 14 artikel
Sukma
memiliki 7 artikel
Sela
memiliki 9 artikel
Medialova
memiliki 13 artikel
Farida
memiliki 13 artikel
MediaNews
memiliki 15 artikel
Annisa
memiliki 9 artikel
Indah
memiliki 12 artikel
Intermezzo
memiliki 11 artikel
AndreSugara
memiliki 3 artikel
Feronica
memiliki 6 artikel
Ayoe
memiliki 6 artikel
Iqbal
memiliki 10 artikel
Malihah
memiliki 5 artikel
Drakor
memiliki 182 artikel
Fuad
memiliki 6 artikel
Alizen
memiliki 22 artikel
Syamsul
memiliki 9 artikel
Fauzi
memiliki 10 artikel
Oman
memiliki 8 artikel
Bayu
memiliki 7 artikel
Fauzan
memiliki 20 artikel
IqbalFauzi
memiliki 18 artikel
Tiara
memiliki 16 artikel
Fitria
memiliki 11 artikel
Staff
memiliki 8 artikel
Gabrielle
memiliki 8 artikel
Roby
memiliki 4 artikel
BeritaPolri
memiliki 9 artikel
Panestika
memiliki 3 artikel
Anggi
memiliki 7 artikel
Maulida
memiliki 121 artikel
Saktiprayoga
memiliki 209 artikel
Janeta
memiliki 8 artikel
Fanisari07
memiliki 32 artikel
Nabila
memiliki 21 artikel
Yudi1998
memiliki 51 artikel
HengkiSEO
memiliki 19 artikel
Destria
memiliki 4 artikel
wi
Widaulfatum
memiliki 3 artikel
Anisaa
memiliki 44 artikel
rb2 rb3